Kembang api tanpa ceremony itu berjatuhan kembali
Sedari hikmatnya ramadhan sampai
Ditengah syahdunya aidil fitri
Tangis wanita tua kembali menggema
Darah anak-anak kecil kembali mengalir
Teriakan takbir para pemuda di sela-sela puing bangunan kembali dilantunkan
Dan mayat para syuhada pun kembali berjatuhan
Ketika kita mengerjakan tarawih dengan penuh kehikmatan
Disana mereka merintih perkara mesjid yang dihancurkan
Ketika kita mengeluhkan tanpa mudiknya lebaran
Mereka disana menangisi kiblat pertama yang terus dicoba untuk dimusnahkan
Di sisa-sisa reruntuhan
Ada keimanan yang begitu dipertahankan
Bumi Syam tak pernah redam
Tangan-tangan kosong itu
Tak pernah ragu melawan senapan dan roket-roket yang terus menghujam
Disini mati bukan lagi satu hal yang ditakuti
Melainkan sebuah kemenangan perihal keimanan yang tak pernah bisa dibeli
Bumi Syam tak pernah redam
Namun mengapa dunia seakan terus membungkam
Mirisnya lagi
Kita yang seharusnya ikut terluka
Malah ada yang mampu berpendapat bahwa palestine bukan urusan kita
Kwalitas yang memang selalu mengalahkan kwantitas
Karena pada hakikatnya
Sekalipun tanpa beban kepercayaan
Penindasan demi penindasan sudah lebih dari cukup untuk mendegup sisi kemanusiaan
Tempat ibadat di ganggu gugat
Pagi hari sehat wal'afiat petang nanti bisa jadi cuma tinggal jasad
Malam ini tidur di rumah petang nanti tinggal puing-puing di tanah
Sampai pada anak-anak tak berdosa
Yang terus menjadi korban anjing dunia
Hak asasi adalah sesuatu yang takkan pernah kau temukan disini
Bila sampai hari ini
Kau masih berkata bahwa palestine bukan urusan kita
Yang patut dipertanyakan bukan hanya tentang keimananmu
Namun juga seberapa pantaskah kau untuk terus disebut manusia
(Aceh utara, Mei 2021)
Murtadha mj

Tidak ada komentar:
Posting Komentar