Kamis, 24 April 2025

MEREBUT CAHAYA - Puisi Murtadha Mj

 

Di antara dua sujudku
Kutemukan aroma daun basah yang dibawa angin lembab subuh itu
Membasahi pori-pori relung hati yang lama gersang, tandus tanpa ilalang
Pada mata yang berkaca-kaca kulihat aku yang tertatih tak berdaya
Dikuliti bertubi-tubi hingga mati berkali-kali
Dibunuh fikiran sendiri

Dengan merangkak setengah mati kugapai (Alif) (Lam) itu
Namun (Mim) nya tak pernah ku temu
Lalu akhirnya pada lubang yang sama aku kembali 
Dan hanya sesal yang sama yang aku temui

Lantas aku kembali melihat (Mim) itu dipuncak
Aku pun kembali merangkak
Dari segala futur yang mengubur
Namun (Mim) itu kian mengabur

Biarlah hidup berkalang dosa
Biarlah mati di peperangan merebut cahaya

(Aceh Utara, 25 April 2025) 



#Murtadhamj #puisi #puisimotivasi #puisicinta #puisisufistis #puisisunyi #sajak #sajakmotivasi #sajaksangsalik


MENJADI DEBU - Puisi Murtadha Mj

 

Cahaya bulan mendesak remang di celah-celah pekatnya awan
Bintang bersikeras untuk berkedip dengan sisa cahaya yang ia punya
Memberi tanda pada ilalang yang tetap bergoyang meski dibasahi angin malam
Rintihan sunyi memaksa mati nyala cinta yang berkobar dengan liarnya
Semesta menyalak kepada dua insan untuk beranjak
Aku yang terusir di pinggir tabir waktu
Sembari mendekap erat hangatnya senyum itu
Mata yang berbinar menyiratkan luka yang begitu lebar
Dengan pedang takdir yang terhunus, engkau masih di situ dengan senyummu yang tak pernah pupus
Bagaimana aku bisa lupa? 
Dan bagaimanapun juga, semesta melarang kita untuk bersama

Namun, Lentera yang ia padamkan
Hanya menyisakan bara yang membakar semakin dalam
Biarlah aku menjadi debu
Selama masih bisa memeluk bayangmu
Biarlah aku menjadi fana
Selama senyum itu tetap di wajahmu untuk selamanya

Bukankah pujangga selalu berkata, bahwa memiliki bukanlah syarat dalam mencinta? 
Maka tetaplah di kau dalam bahagia
Biarlah jiwa ini terus berkelana, di padang gersang yang tak ada ujungnya
Bersama angin musafir
Berakhir di Liang takdir

(Aceh Utara, 25 April 2025) 


#Murtadhamj #puisi #puisimotivasi #puisicinta #puisiromantis #puisisedih #sajak #sajakmotivasi #sajaksajakcinta #sajakromantis #sajaktuandannona

Selasa, 22 April 2025

DAN PADA AKHIRNYA - Puisi Murtadha Mj -

 

Dan pada akhirnya
Takdir sendiri yang membatasi ku untuk memenuhi janji-janji itu
Janji untuk sang senja tak pernah terluka oleh gelapnya malam
Janji untuk sang bunga tak pernah layu meski jarang disiram

Lalu apa yang dikatakan semesta? 
Adalah benar bahwa akulah sang pendusta
Bahwa akulah yang pada akhirnya berhenti memaknai pagi sebagai permulaan sebuah mimpi
Bahwa akulah yang pada akhirnya memaknai pagi sebagai penyebab sang embun pergi

Ya, akulah si jahat itu
Yang hendak mencuri sang putri raja dari istana seorang Ibu
Yang setelah menyerahkan segala yang ku punya, namun masih saja tak mampu menggapaimu
Bermodalkan sebatang galah
Sedang engkau rembulan tak terjamah
Aku dicabik-cabik mimpi panjang hingga luluh lantah
Ditelanjangi zaman yang mensyaratkan kemewahan
Dibunuh harapan akan bahagia di kesederhanaan
Katika daun yang jatuh hanyalah sampah yang mengotori halaman
Tanpa sedikit harga bahwa ia pernah berawal dari bibit yang tumbuh perlahan
Merangkaki dahan-dahan waktu
Demi segala do'a yang pernah melangit itu

Dan pada akhirnya
Setitik embun tetap berharga dalam mekarnya setangkai bunga
Setidaknya aku pernah sepenuh hati merawat kuntummu
Meski harum mekarnya bukan untukku

Tumbuhlah dikau dengan indahnya
Agar patah ku tak sia-sia

(Aceh Utara, 23 April 2025) 


#Murtadhamj #puisi #puisimotivasi #puisicinta #puisiromantis #puisisedih #sajak #sajakmotivasi #sajaksajakcinta #sajakromantis #sajaktuandannona