Bila kita terlalu mengasumsikan sebab
dapat mengikis rasa iba akan akibat
Toleransi pun beranjak
Dengan mengatasnamakan orang-orang bijak
Yang bergumam dalam syairnya
Ia berkata bahwa perihal di sana
Dan agama tidak ada sangkut pautnya
Penyair yang sudah terlalu handal dalam berfikir
Biarpun inti dari puisinya itu adalah seruan akan kedamaian
Namun sungguh tidak tepat bila kau bermadah
Yang bikin tambah gerah
Adalah agama yang disangkutpautkan
Setiap keyakinan bebas merajai setiap pemikiran
Karena keyakinan
Adalah hasil jangka panjang dari mengenal Mempelajari
Memahami dan menitik beratkan
Hingga menjadi kebiasaan
Atas dasar keimanan
Seharusnya mempunyai ruang yang lebih luang dalam berfikir
Mungkin yang kau lihat hanyalah sebuah rumah tua di seberang jalan
Namun itu adalah tempat meleburnya cinta Bagi mereka yang di dalam
Bedanya saja
Kau yang terlalu sibuk mencermati rumah tetangga
Hingga tentang rumahmu sendiri kau jadi lupa
Bahwa di sana ada keyakinan yang semacam itu jua
Dari dulu kita sudah begitu menjunjung tinggi toleransi antar kepercayaan
Lalu mengapa harus menyalahkan keyakinan
Bukankah kita yang dengan masing-masing keyakinan membahu kedamaian
Sampai kita tak lagi merasa iba
Kita bukan saja harus pandai dalam mengendus siasat media
Namun kita juga harus punya siasat untuk mengendusnya
Atau ini masalah Agama




