Dan pada akhirnya
Takdir sendiri yang membatasi ku untuk memenuhi janji-janji itu
Janji untuk sang senja tak pernah terluka oleh gelapnya malam
Janji untuk sang bunga tak pernah layu meski jarang disiram
Lalu apa yang dikatakan semesta?
Adalah benar bahwa akulah sang pendusta
Bahwa akulah yang pada akhirnya berhenti memaknai pagi sebagai permulaan sebuah mimpi
Bahwa akulah yang pada akhirnya memaknai pagi sebagai penyebab sang embun pergi
Ya, akulah si jahat itu
Yang hendak mencuri sang putri raja dari istana seorang Ibu
Yang setelah menyerahkan segala yang ku punya, namun masih saja tak mampu menggapaimu
Bermodalkan sebatang galah
Sedang engkau rembulan tak terjamah
Aku dicabik-cabik mimpi panjang hingga luluh lantah
Ditelanjangi zaman yang mensyaratkan kemewahan
Dibunuh harapan akan bahagia di kesederhanaan
Katika daun yang jatuh hanyalah sampah yang mengotori halaman
Tanpa sedikit harga bahwa ia pernah berawal dari bibit yang tumbuh perlahan
Merangkaki dahan-dahan waktu
Demi segala do'a yang pernah melangit itu
Dan pada akhirnya
Setitik embun tetap berharga dalam mekarnya setangkai bunga
Setidaknya aku pernah sepenuh hati merawat kuntummu
Meski harum mekarnya bukan untukku
Tumbuhlah dikau dengan indahnya
Agar patah ku tak sia-sia
(Aceh Utara, 23 April 2025)
#Murtadhamj #puisi #puisimotivasi #puisicinta #puisiromantis #puisisedih #sajak #sajakmotivasi #sajaksajakcinta #sajakromantis #sajaktuandannona

Tidak ada komentar:
Posting Komentar